Sustainable Living, Gaya hidup atau cara hidup?

Sustainable living atau biasa disebut hidup ramah lingkungan telah menjadi tren gaya hidup pada 2019, dilansir dari tirto.id. “Tren gaya hidup tersebut digunakan untuk meminimalisir dampak buruk dari sampah plastik yang berkontribusi secara nyata terhadap perubahan iklim bumi.” Banyak bertebaran narasi serupa yang mengaitkan sustainable living dengan plastik. Apakah hasil sampah kita hanya plastik? Padahal hidup kita banyak disokong oleh material lain juga.

Faktanya 57% sampah yang kita hasilkan adalah sampah organik lalu plastik menyumbang 16% sampah, lebih sedikit persentasenya dibanding sampah organik. Momentum ledakan sampah tahun 2005 di TPA Leuwi Gajah menjadi pembuktian betapa 57% sampah organik yang mudah terurai itu sama berbahayanya jika terperangkap oleh 16% sampah plastik. Kita belajar banyak dari momentum ini, salah satunya agar lebih adil dalam memperlakukan sampah sesuai karakteristiknya. Momentum ini bentuk nyata krisis lingkungan, krisis iklim telah di depan mata. Sehingga pada masa krisis ini membuang sampah di tempatnya saja sangatlah tidak cukup.

Jika sustainable living dimaknai dengan gaya hidup ramah lingkungan, maka cocok sekali disebut tren. Dalam sejarah, tren fashion tidak berkelanjutan dan memiliki masa populernya. Masa populer ini akan berulang lagi dimasa selanjutnya lalu tren turun, kembali meredup dan bangkit lagi, demikian seterusnya. Sedangkan alam memiliki siklus yang melingkar, berawal dan kembali di titik yang sama. Alam dan fashion jelas tidak setara dan memiliki pola pergerakan yang berbeda. Saat kita memaknai ramah lingkungan sebagai gaya, maka seperti menanamkan mindset ramah lingkungan akan meredup pada waktunya sama seperti fashion. Apakah kita butuh ledakan sampah lagi agar tren ini bangkit?

Need and Want. Tentu kita tahu mana yang lebih berharga dan layak untuk diperjuangkan. Kita butuh melanjutkan kehidupan dan generasi selanjutnya butuh tempat untuk hidup. Kita butuh cara hidup berkelanjutan untuk kehidupan saat ini dan selanjutnya, sehingga gaya sebagai keinginan tidak lagi relevan. Sustainable Living, we need it. Earth need it.

Yuk mengenal sustainable lebih lanjut dengan mengikuti kelas Gemari Pratama. Kuota terbatas!

Lalu bentuk cara hidup berkelanjutan itu seperti apa sih?

Banyak cara yang bisa kita lakukan mulai dari sustainable shopping, sustainable home, sampai sustainable commuting. Wah bahasa enggres ya, apa gaada padananan bahasa Indonesianya? Tentu ada. Bahkan belanja berkelanjutan atau populer dengan belanja berkesadaran sebenarnya sudah diterapkan sejak dulu, hanya saja sekarang ini kita sedang khilaf dan beralih ke unsustainable living. Dulu kalau beli pecel bungkusnya daun jati atau pisang, nasi basi kita jemur untuk pakan ayam, pesan soto bawa wadah rantang sendiri, dan saat belanja ke pasar pasti bawa tas belanja. Itu beberapa contoh praktis, intinya kita memberdayakan yang sudah ada, maupun menggunakan material yang mudah terurai oleh alam. Hal ini selaras dengan pilar cara hidup berkelanjutan, menjalani hidup dengan sadar dan menghidupkan lagi kearifan lokal.

Berikut 3 pilar cara hidup berkelanjutan yang dilansir dari Sustaination:

  1. Menjalani kehidupan positif karbon
  2. Menjalani hidup dengan sadar
  3. Menghidupkan kearifan lokal

Ketiga pilar ini dilakukan dengan mudah dan terjangkau oleh semua kalangan. Maka cara hidup berkelanjutan lebih dari meminimalisir penggunaan plastik dan bisa kita mulai dari sesederhana menanamkan mindset.

Kalau mindset perlu ditanam dan ditumbuhkan maka kita perlu air dan alat untuk bercocok tanam. Airnya dari dikelilingi oleh kawan-kawan seperjuangan. Sedangkan salah satu alatnya adalah menata diri, mulai dengan kegiatan berbenah tempat tinggal kita.

Gemar rapi menyediakan arena bertumbuh bagi kawan-kawan seperjuangan yang ingin memulai dari berbenah tempat tinggal. Kelas yang tidak hanya menanamkan mindset tapi juga langsung praktek. Kelas gemar rapi pratama adalah langkah awal yang tepat untuk mulai menjalani hidup dengan sadar. Kurikulum gemar rapi disusun dengan sangat cermat dan sesuai dengan kondisi hidup di Indonesia. Kelas berbenah ini memberikan pengalaman belajar yang amat menyenangkan.