Press Release Acara ‘Membangun Rumah Tumbuh’

Membangun Rumah Tumbuh Versi Keluarga Berbenah Co-Founder Gemar Rapi

Gemarian, dalam rangka merayakan kemerdekaan Indonesia ke-76 Tahun dengan slogannya ‘Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh’. Ruang Rapi, salah satu program kelas bulanan dari Gemar Rapi telah mengadakan sesi Talkshow pada tanggal 27 bulan Agustus 2021 bertepatan dengan hari Jumat pukul 16.00 WIB. Dengan mengangkat tema ‘Membangun Rumah Tumbuh Versi Keluarga Berbenah Co-Founder Gemar Rapi’, acara ini diselanggarakan guna pengumpulan donasi pembangunan Musala Baity Jannaty di Kampung Hambulu, Desa Pondok Udik, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor.

Sekilas mendengar temanya tentu membuat kita penasaran, bukan? Apa sih ‘Rumah Tumbuh’ itu? Apakah ini akan menjadi tren baru untuk Indonesia Tumbuh kedepannya? Atau bagaimana. Semoga saja segala hal yang berkaitan dengan pertumbuhan hal baik, terutama dari dalam rumah, bisa disebarkan secara masif ke depannya.

Narasumber Ruang Rapi kali ini menghadirkan Aang Hudaya dan Khoirun Nikmah sebagai pelaku, serta praktisi rumah tumbuh itu sendiri. Gemarian, sepertinya kedua nama mereka sudah tidak asing ya, dengan julukan sebagai pasangan ‘Couple Berbenah’ ini. Keduanya juga merupakan Co-Founder Gemar Rapi yang terus mengkampanyekan prinsip dan pilar Gemar Rapi. Sesuai dengan taglinenya, ‘Menata Diri Menata Negeri’, Kang Aang dan Mbak Nikmah -sapaan akrabnya-, terus mencoba memberikan inspirasi untuk kita dalam gerakan menata negeri dari rumah dan pribadi atau Gemar Rapi.

Gemar Rapi identik dengan metode berbenah, menghadirkan cara serta konsep berbenah yang holistik yang tentunya termaktub dalam karakteristiknya. Sebagai Co-Founder pula, mereka serta merta memegang teguh pada metode berbenah Gemar Rapi yang jika dipraktikkan akan membentuk tatanan RASA. Yakni akronim dari kata rapi & teratur, aman & nyaman, sehat & bersih, alami & berkelanjutan.

Dihadiri oleh hampir seratus peserta melalui zoom meeting membuat acara ini sukses. Terbukti dengan banyaknya minat dan lemparan pertanyaan peserta yang diperkirakan hanya berlangsung satu jam setengah menjadi hampir dua jam penuh lamanya. Peserta ini pula yang menjadi donatur untuk musala. Total perolehan donasi sebesar tiga juta lima ratus sembila puluh satu ribu lima ratus rupiah. Dengan total donatur 71 orang.

Terdapat lima materi yang disusun rapi dan menarik yang telah disampaikan. Diawali dengan memperkenalkan ‘Rumah Tumbuh’ dari setiap kata sesuai kaidah bahasa Indonesia.

Rumah yang bermakna bangunan tempat tinggal atau bangunan pada umumnya. Tumbuh memiliki makna timbul (hidup) & bertambah besar/sempurna (untuk tanaman), sedang berkembang, terbit, terjadi (sesuatu).

Sedangkan makna dari ‘Rumah Tumbuh’ dari sisi bangunan adalah pembangunan hunian yang dilakukan secara bertahap.

Bagi pasangan ini ‘Rumah Tumbuh’ dimaknai sebagai membangun tempat tinggal impian secara sadar dilakukan perlahan-lahan, dengan menyesuaikan dana yang dimiliki, berpijak pada prinsip yang diyakini, sambil terus belajar memperbaiki diri.

Menariknya, pasangan ini menerangkan bahwa ‘Rumah yang menumbuhkan, ditumbuhkan dan tertumbuhkan adalah rumah yang bukan sekadar dibangun sebab uang atau budget yang terjeda, terbatas dan tertunda. Melainkan rumah yang memang dari sanalah kami bisa belajar bagaimana hidup selaras dengan alam dan membawa pada perbaikan’. Sehingga, jika boleh menyimpulkan, mereka membangun bukan hanya fokus pada bangunan fisik semata. Melainkan juga pertumbuhan penghuni serta lingkungannya.

Pasangan yang saat ini masih dikaruniai satu anak ini, menjelaskan pula maksudnya, bahwa “Rumah Tumbuh adalah sarana utama belajar bagi kami, yang inti pemikiran sederhananya adalah jika kaitannya secara fisik dengan lingkungan, menginginkan agar rumah ini tidak ada polusi, limbah, sampah, bahkan residu apa pun yang keluar dari rumah kami, sehingga kami tidak menginginkan semua melewati rumah orang lain bahkan bisa menyebabkan pencemaran lingkungan. Karena itulah kami sangat mengupayakan dari segi desain, struktur dan layoutting, kami tata sedemikian rupa. Agar semua limbah yang kami hasilkan akan berhenti di rumah kami saja dan tentunya terolah dengan baik. Tujuannya pasti agar kami tidak ingin mendapatkan hal-hal yang tidak baik bagi kita semua. Maka itulah ‘Rumah Tumbuh’ menjadi pilihan kami, berdasar pengalaman berbenah yang telah dilakukan selama ini.”

Mewujudkan sebuah rumah impian, mungkin sebagian orang berpikir tidaklah mudah bukan? Namun, yang perlu Gemarian tahu, bahwa dasar untuk mewujudkan sebuah konsep rumah impian, membutuhkan pengenalan diri sendiri dan pasangan sedari awal. Kita harus bisa konfirmasi (validasi) antara satu sama lain sebagai pijakan dalam komunikasi dan membangun ritme keseharian. Tak ayal pasangan ini pun mengakui menggunakan jasa talents mapping berbayar untuk mengetahui urutan bakat, peta bakat, potensi kekuatan hingga typologi kekuatan masing-masing. Tidak hanya telents mapping, meraka juga mencoba tes 16 personalites untuk mengetahui dominan masing-masing pasangan. Jika ditanya mengapa pasangan ini melakukan berbagai tes ini tentunya pasti menginginkan sebuah keselarasan di dalam rumah tangga, agar tercipta keluarga yang dinginkan dalam satu tujuan.

Pasangan yang menikah di tahun 2014 dan sudah berpindah rumah kontrakan sebanyak empat kali ini pun akhirnya memulai dengan menuliskan impian bersama & menetapkan konsep hidup yang di anggap ‘ideal’. Bermula dari menerapkan konsep 5S sepanjang mengontrak rumah, kemudian belajar Metode KonMari hingga akhirnya memijakkan pilihan bersama pada konsep minimalis, eco-family- regeneratif, ramah anak dan orang tua, ruang berkarya serta ruang berbagi. Setelah itu barulah menetapkan budget dan berjuang bersama untuk mewujudkannya.

Tentunya proses untuk mendapatkan semua ini pasti membutuhkan perjuangan yang tidak sedikit dan mudah. Seperti halnya impian membangun ‘Rumah Tumbuh’nya, bermula dari tahun 2019 dan baru bisa ditempati pada awal tahun 2021. Kini, mereka pun masih terus berproses untuk menumbuhkan rumah sesuai dengan blueprint yang telah dibuat.

Seperti yang sudah dibahas di awal ‘Rumah Tumbuh’ hadir karena adanya karakteristik berbenah yang menjadi fondasi, dimana pembentukan mindset, pendekatan spiritual, perubahan habit menjadi point awal untuk memulai semuanya. Setelah itu barulah semua ini akan terbentuk seiring berjalannya waktu, perlu proses, sehingga tidak bisa instan ya Gemarian.

Lalu pertanyaan dari peserta yang masuk, sangat banyak menanyakan tentang bagaimana pembentukan karekteristik itu sendiri? Mbak Nikmah penulis buku solo dengan judul KonMari Mengubah Hidupku menjelaskan bahwa penanaman karakteristik bisa terjawab dan ditemukan pada kelas Gemari Pratama yang akan dimulai pada awal November ini. Jadi, Gemarian yang belum ikut kelas ini jangan sampai terlewatkan ya. Kita bisa belajar bersama di batch 6 ini, untuk details tentang kelas Gemari Pratama bisa di cek di https://bit.ly/ayodaftarGP6

Semangat untuk terus “Menata Diri Menata Negeri.” MERDEKA!