Mengelola Sampah An-Organik

Penumpukan sampah bisa mengakibat berbagai macam penyakit, oleh sebab itu harus ada penanganan yang lebih lanjut.

Penanangan sampah dibedakan menurut jenisnya, organik dan anorganik. Untuk sampah organik biasa kita Rot/kembalikan ke bumi menjadi pupuk kompos, sedangkan untuk penanganan sampah anorganik biasanya didaur ulang menjadi barang baru yang lebih bernilai guna dan ekonomis atau didaur ulang menggunakan mesin.

Namun, sebelum itu kita lakukan. Langkah awal adalah memisahkan kedua jenis sampah itu, yaitu organik dan anorganik. Untuk organik sudah kita bahas pekan lalu. Pekan ini kita beralih ke bahasan sampah anorganik.

Dalam proses daur ulang sampah anorganik yang biasanya didominasi dengan sampah plastik rumah tangga perlu proses yang cukup panjang dan biasanya didominasi oleh plastik. Ini dikarenakan sampah plastik sungguh murah meriah kita dapatkan walaupun di satu sisi sangat sulit terurai. Sehingga mau tidak mau kita harus mengolahnya kembali agar tidak mencemari tanah/bumi.

Pertama, kita harus membersihkan plastik yang akan diolah, proses ini bertujuan agar bahan plastik terhindar dari kotoran ataupun label yang masih menempel.

Proses mencuci dan mengeringkan di awal cukup repot bagi sebagian orang Namun setelah terbiasa hal itu sangat mudah kok dilakukan.

Kemudian pipihkan plastik yang menggembung- belum berbentuk pipih seperti botol atau yang lain, jika kesulitan bisa gunakan mesin press. Atau khusus botol yang memenuhi syarat Ecobrick bisa disimpan dulu (bahasan topik Ecobrick akan disampaikan di materi lain). Proses selanjutnya yaitu proses yang penting yaitu proses merajang plastik menjadi serpihan yang berukuran kecil. Ini tentu harus dilakukan dengaan bantuan mesin. Idealnya dalam satu RW atau RT memiliki mesin ini. Plastik yang sudaha dirajang ini memiliki nikai ekonomi tersendiri biasanya digunakan untuk Industri plastik. Jadi proses recycling lebih paripurna.

Bank Sampah

Salah satu alternatif mengelola sampah anorganik adalah dengan menyetorkan sampah anorganik terpilah ke Bank Sampah. Tapi ini bukanlah upaya terbaik ya, sebisa mungkin justru kita kelola dan olah terlebih dahulu.

Bank sampah adalah suatu tempat yang digunakan untuk mengumpulkan sampah yang sudah dipilah-pilah. Hasil dari pengumpulan sampah yang sudah dipilah akan disetorkan ke tempat pembuatan kerajinan dari sampah atau ke tempat pengepul sampah. Bank sampah dikelola menggunakan sistem seperti perbankan yang dilakukan oleh petugas sukarelawan. Penyetor biasanya adalah warga yang tinggal di sekitar lokasi bank serta mendapat buku tabungan seperti menabung di bank.

Bank sampah berdiri karena adanya keprihatinan masyarakat akan lingkungan hidup yang semakin lama semakin dipenuhi dengan sampah baik organik maupun anorganik. Sampah yang semakin banyak tentu akan menimbulkan banyak masalah, sehingga memerlukan pengolahan seperti membuat sampah menjadi bahan yang berguna. Pengelolaan sampah dengan sistem bank sampah ini diharapkan mampu membantu pemerintah dalam menangani sampah dan meningkatkan ekonomi masyarakat.

Bank sampah memiliki beberapa manfaat bagi manusia dan lingkungan hidup, seperti membuat lingkungan lebih bersih, menyadarkan masyarakat akan pentingnya kebersihan, dan membuat sampah menjadi barang ekonomis. Manfaat bank sampah untuk masyarakat adalah dapat menambah penghasilan masyarakat karena saat mereka menukarkan sampah mereka akan mendapatkan imbalan berupa uang yang dikumpulkan dalam rekening yang mereka miliki. Masyarakat dapat sewaktu-waktu mengambil uang pada tabungannya saat tabungannya sudah terkumpul banyak. Imbalan yang diberikan kepada penabung tidak hanya berupa uang, tetapi ada pula yang berupa bahan makanan pokok seperti gula, sabun, minyak dan beras. Bank sampah juga bermanfaat bagi siswa yang kurang beruntung dalam hal finansial, beberapa sekolah telah menerapkan pembayaran uang sekolah menggunakan sampah.

Seorang dokter bernama Gamal Albinsaid menggagas sebuah asuransi kesehatan yang membayarnya dengan sampah. Asuransai kesehatan “sampah” ini dapat membantu masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan tanpa harus membayar dengan uang melainkan dengan sampah.

Dokter Gamal bersama dengan rekannya juga membuat sebuah klinik kesehatan. Masyarakat akan mendapatkan layanan kesehatan di klinik yang sudah tersedia dengan biaya dari asuransi ksehatan “sampah” yang mereka miliki. Setiap satu bulan sekali masyarakat akan menyetorkan sampah berupa botol plastik, kardus,dan sampah organik senilai sepuluh ribu rupiah sebagai premi asuransi.

Selain itu, ada juga di Semarang. Seorang pedagang bernama Sarimin membuat warung makan yang pembelinya dapat membayar dengan sampah plastik.

Inovasi serupa juga dijalankan oleh kota Surabaya dengan Suroboyo Bus-nya. Masyarakat yang ingin menaiki Suroboyo Bus tidak perlu membayar dengan uang, melainkan cukup membawa sampah plastik berupa botol maupun gelas plastik kemasan air minum. Untuk mendapatkan satu tiket tanda naik bus, penumpang harus membawa botol plastik bekas ukuran 1,5 liter sebanyak 3 botol, ukuran sedang atau kecil sebanyak 5 botol, atau gelas plastik air minum kemasan sebanyak 10 gelas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *