Jiwa Yang Sehat

Gemarians, apakah kamu tahu bahwa negeri kita yang tercinta ini masih kekurangan tenaga ahli profesional kesehatan, khususnya di bidang kejiwaan? Bahkan faktanya jika dilihat dari tingkat masyarakat yang membutuhkan penanganan kesehatan jiwa (emotional disorder), sudah memasuki angka 15 juta dan itu sangat berbanding terbalik dengan jumlah tenaga kesehatan jiwa yang baru mencapai angka di 1100 (sember- Health Ministry, 2018) bahkan WHO sendiri pun memprediksikan pada tahun 2030 kesehatan jiwa akan menjadi beban terbesar yang akan menjadi bom waktu.

Sebenarnya apa ya, kesehatan jiwa itu?

Kesehatan jiwa itu adalah kondisi di mana setiap individu mampu mengenali potensi dirinya, dapat mengatasi tekanan/stres yang ditemui sehari-hari, dapat bekerja secara produktif dan berkontribusi untuk komunitasnya. Namun, sebaliknya apabila gangguan yang menyerang kondisi emosional psikologis dan kesejahteraan individu hingga akhirnya menyebabkan adanya perubahan-perubahan dalam pola pikir, mood atau perilaku lainnya, sudah bisa kita sebut sebagai gejala sebuah gangguan jiwa (Public Health Agency of Canada, 2006).

Masih ada kuota tersisa untuk mengikuti kelas Gemari Pratama

Menurut Nurihsantia seorang praktisi psikologi UI sekaligus Co-Founder dan CMO Sehat Jiwa. Ada dua faktor yang mempengaruhi kesehatan jiwa kita yaitu internal dan eksternal. Faktor internal yang berasal dari dalam diri, yakni kemampuan seseorang dalam beradaptasi, kemampuan untuk bangkit hingga motivasi yang dimiliki. Sedangkan faktor eksternal berasal dari lingkungan dan hal lain yang berada di luar individu, terkait fasilitas, lingkungan kerja, akses layanan, dukungan sosial, bencana alam atau wabah pandemi seperti yang sedang kita alami bersama saat ini.

Jadi jika kita runut kembali, contoh dari faktor eksternal menjadi hal terbesar yang kita hadapi saat ini bersama adalah pandemi Covid 19. Ya, Covid 19 seakan menjadi hal yang kita rasakan tidak adanya kepastian. Namun, yang perlu Gemarian garis bawahi adalah kita harus percaya bahwa apa yang kita rasakan saat ini adalah sebuah hal yang sama dirasakan oleh orang lain. Kabar baiknya kita tidak merasakan hal ini sendirian kita hanya membutuhkan sebuah pintu lain untuk mencari jalan keluar dari masalah yang kita hadapi ini satu-persatu. Karena itulah untuk membuka pintu itu penting untuk kita menjaga kesehatan jiwa.

Gemarian, memang untuk saat ini kita butuh ekstra menjaga kewarasan jiwa bukan? Menjaga kesehatan jiwa itu harus diawali dengan cara mengenal terlebih dahulu tingkat kebutuhan yang kita rasakan. Mungkin akan sedikit terlihat sulit karena kita terbiasa untuk selalu berusaha memenuhi kebutuhan orang yang ada di dekat kita. Namun, dengan cara kita mengenal diri terlebih dahulu maka kita akan mudah untuk bisa menyelesaikan masalah yang mendatangi diri kita.

Ada tiga tipe bentuk respon tubuh yang sering kita hadapi di saat diri menghadapi bahaya yang pertama adalah Fight berjuang/melawan, kedua Flight berlari/pergi. Fight dan Flight menjadi sebuah respons stres yang membantu kita mengenali ancaman di mana semua sistem tubuh akan bekerja agar kita bisa bertahan hidup.

Respons stres tersebut secara instan akan menyebabkan terjadinya perubahan hormonal dan fisiologis. Perubahan tersebut kemudian akan membuat kita bisa bertindak cukup cepat untuk melindungi diri. Sehingga tak salah, mekanisme fight ataupun flight menjadi insting kita agar bisa bertahan hidup. Selain Fight dan Flight adapun tipe ketiga yaitu freeze berdiam diri atau bisa juga disebut imobilitas reaktif yang cenderung diam dan memikirkan strategi selanjutnya (kutipan dari sehatq.com)

Dari ketiga respon ini semua adalah reaksi yang otomatis terjadi, keputusan tersebut seringkali tidak kita sadari sehingga kita tak mampu mengontrolnya. Lantas apa yang harus kita lakukan agar tetap sehat jiwa dan bahagia?

Kuncinya adalah sebuah acceptance. Acceptance adalah sikap yang diwujudkan dengan kemampuan individu menerima pikiran dan perasaannya meskipun hal itu bukanlah sesuatu yang diinginkan.

Gemarians, boleh mencoba untuk memegang kunci ini yah untuk menuju hidup yang lebih sehat secara jiwa, kita adalah manusia tugas kita adalah memanusiakan manusia dengan cara-cara kemanusiaan, tetapi jangan lupa bahwa diri kita juga perlu untuk dimanusiakan.

Salam Menata Diri dan Menata Negeri.

Leave a Comment